Versus
October 19, 2009
Sedikit yang tertinggal dari show ke-49 dan ke-50 Pearl Jam di hometown, Seattle…
Pada konser pertama (21/9), Eddie Vedder menyampaikan pesan dari eks-bassis Nirvana yang kini menjadi politisi, Kris Novoselic, berupa anjuran untuk tidak memilih Susan Hutchinson dalam kampanye pemilihan eksekutif King County. Kris menelpon Vedder sebelum show. Ini, bagi saya, adalah salah satu fragmen dalam sejarah koeksistensi Pearl Jam dan Nirvana yang bagus untuk dimasukkan bilamana ada kesempatan saya berbicara lagi menengahi opini meruncing tentang paradoks bahwa dua band asal Seattle itu seperti Itchy dan Scratchy.
Saya teringat penggalan kisah dalam sebuah sejarah kecil budaya kontemporer. Tahun 1992 adalah tahun konfrontasi bagi para penggemar grunge di belahan manapun. Sebuah friksi kecil yang terlontar dengan kekuatan pegas media mampu mengarahkan konstelasi yang membelah bagi sudut komunitas penggemar musik asal Seattle tersebut. Itu adalah masa di mana Seattle Sound menapak naik, ditandai dengan ramahnya MTV menjamah dan menyorot kota di barat daya Amerika tersebut. Oleh karena sorot pandang berada di sekitaran space needle, maka sebuah lontaran ekspresif dari Kurt Cobain, frontman band sohor Nirvana, tentang Pearl Jam mampu membentuk polarisasi yang mengkristal selama bertahun-tahun (sampai sekarang bahkan).
“Pearl Jam adalah band rock-korporasi yang hanya bisa menumpang tenar dari kendaraan band Seattle lainnya,” tukas Cobain saat itu.
Hanya satu statemen sebetulnya, dan tidak pernah terulang lagi. Namun implikasinya parah, lantaran para “bandwagon” sebenarnya, yakni nyamuk pers, melihat hal itu sebagai eksploitasi untuk menciptakan karakter-karakter yang diperlukan dalam sebuah dramaturgi (dan dramatisasi) peristiwa. Media menciptakan euforia pertentangan protagonis dan antagonis dalam balut puritanisme bermusik. Polar Pearl Jam dan kutub Nirvana telah tercipta.
Bagi Indonesia, yang sedikit lag dalam informasi, polarisasi ini baru terbumbu ketika era internet mulai booming, tatkala grunge/Seattle Sound hanya dicabik dari komunitas ke komunitas yang berlingkar terbatas. Cap polarisasi antara kubu korporasi dan grunge sejati itu masih menajam di sini. Saya sering mendapat banyak pertanyaan, bahkan sampai beberapa bulan lalu ketika sebuah stasiun radio memajang “Pearl Jam vs Nirvana” sebagai tajuk siaran. Saya diminta “kontribusi” untuk menjelaskan apa keunggulan Pearl Jam (karena saya mewakili komunitas Pearl Jam Indonesia) dibanding Nirvana. Jujur, saya tidak melihat satu perbandingan nyata dari sisi musikal maupun etika bermusik, kecuali satu hal de fakto bahwa Pearl Jam merilis album lebih banyak daripada Nirvana. Tapi bagi saya, keduanya adalah entitas yang berbeda, yang kemudian menderita akibat konfrontasi imitasi yang diblow up media.
Soal pernyataan yang memicu polarisasi itu, sebetulnya sudah terjadi islah - tanpa ribut yang panjang. Karena bagaimanapun juga, Pearl Jam, Nirvana dan seluruh keluarga Seattle Scene adalah berasal dari mutual friendship, kenal satu sama lain - mutually. Berbagai momen damai telah dirilis, namun ini jelas kontradiktif dengan kepentingan media untuk membuat dramaturgi dari sebuah scene. Ini eksis sejak era The Beatles kontra The Stones. Mereka tentu tak akan melepas tajuk cerita dengan “happy ending” Cinderella yang kontradiksi dengan muatan musik rock.
Sampai akhirnya Cobain meninggal, dan kisah seteru itu immortalized (dibumbui dengan beberapa komentar “tak perlu” sebetulnya, dari beberapa persona). Perimbangan tentu berubah dengan Cobain sebagai martir di dunia rock, statusnya menjadi orang suci, dan semua ajarannya menjadi sabda. Ini yang membuat polarisasi itu menjadi salah satu ayat suci bagi para penggemar yang tidak tercerahkan dengan kejadian sebenarnya…
Oh, well…
Entry Filed under: Music. Tags: grunge, nirvana, pearl jam, pearl jam vs nirvana, seattle.

Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed