Antipati Musik Dalam Negeri?
November 10, 2008
Let see…
Ketika kecil dulu saya suka sekali mendengarkan lagu Fariz RM yang duet dengan Mus Mujiono, entah apa judulnya. Kemudian proyek-proyek keroyokan para musisi beken Indonesia juga sering dilahap karena frekuensi tayang di “Album Minggu Ini” cukup tinggi. Beranjak SD, bareng para preman kampung sering dengerin Iwan Fals. Ada lagu pengantar maen kartu, ada lagu pengantar nongkrong di trotoar, etc. Deket lah sama aktivitas kaum muda nan marjinal…hehehe.
Menginjak SMP, saya mulai mendengarkan album pop Katon Bagaskara yang ada lagu “Negeri di Awan”, saat itu video klip masih barang baru dan lagu ini salah satu yang punya video. Masih di SMP pula, saya lumayan sering mendengar lagu Project P, plesetan lagu yang tenar jaman itu. Bahkan pada waktu itu, saya lebih tahu “Kambing Liar” daripada “Come As You Are”. Maafkan saya bang Cobain. Akhir SMP dan SMA, mulai berkenalan dengan Pas Band. Awalnya memang suka dengan “Psycho ID”, dan dig dua album sebelumnya (termasuk “4 Through the Sap” loh…). Thanks God ada kaset yang terbeli dengan uang saku sekolah saya. Saat kelas 1 SMA, lagu “O o o”-nya Gigi rajin saya nyanyikan di depan kelas kalo kena hukuman guru Bahasa Inggris. Di jaman SMA sampai masuk kuliah, masih apal semua lagu Boomerang, terutama yang kerap diputar adalah “Segitiga”.
Dan ya, saya sedikit kehilangan selera sesudahnya, seiring dengan mandegnya celah apresiasi untuk musik secara holistik. So, memang ngga cuman lokal, tapi global. Saya juga stop nambah referensi setelah era post-alternative dinyatakan usai dan berganti nu metal dan rap metal. Imbasnya ke apresiasi sama musik lokal memang. Terakhir saya membeli album band lokal yang saya suka adalah Mocca (”My Diary”). Sempet juga mencoba beberapa yang lain (termasuk Tika dengan “Frozen Love Song”) tapi kesannya biasa saja.
Kenapa saya jarang denger musik lokal? Karena album lawas (dari musisi lokal) yang saya suka jarang dirilis dalam format CD. Dan untuk mendigitalisasi katalog musik (baca: ripping ke mp3), saya paling anti format ulang dari kaset. Unduh? Ah, saya tidak tega mengunduh ilegal hasil karya orang sebangsa. Kalo ada saran album yang bagus, kasih tahu saja, bagaimana dapetin rekamannya…Salah satu garis bawah lagi, saya jarang denger TV dan nonton radio. Sumber terbesar info musik lokal saat ini.
Begitulah…
Alasan kenapa saya terkesan tidak ambil pusing dengan silang sengkarut dunia musik lokal. Bahkan saya sering tertegun ajaib menyaksikan beberapa nama band di majalah Rolling Stone Indonesia. “Ada ya, band kaya gitu?” Hehehehe.
PS: Ditulis setelah membaca Rolling Stone edisi Immortals versi Indonesia.
Entry Filed under: Music. Tags: musik indonesia, musik lokal.
1 Comment Add your own
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1. Nuki | January 15th, 2009 at 6:03 pm
udah dengerin Efek RUmah Kaca? keren loh… gw lagi tergila-gila band itu