Mengapa Obama?

October 20, 2008

Ya, mengapa Barack Obama? Mengapa harus mempermasalahkan sebuah pemilu di negara dengan beda zona waktu hampir 12 jam dari negara kita? Mengapa harus turut dalam hiruk pikuk pesta demokrasi negara yang mungkin paling banyak dibenci di muka bumi?

Paling tidak tiga alasan ini mengemuka:
1. Sebagai bukti bahwa Amerika bisa percaya kepada golongan minoritas yang secara track record sejarah tidak begitu bagus. Amerika selalu menekan negara lain yang dianggap melanggar HAM. Dunia perlu bukti bahwa sang polisi juga bisa berlaku adil. Oleh karena itu, ini adalah momen bagus supaya perspektif memandang Amerika menjadi seimbang lagi. Mereka harus mengalahkan diri mereka sendiri untuk melihat keturunan kulit hitam berkuasa sebagai presiden.

2. Latar Obama relatif lebih bisa diterima oleh lebih banyak golongan di muka bumi. Oke, di Amerika mungkin itu menjadi masalah, ketika nama tengah “Hussein”-nya memicu spekulasi SARA dan paranoia berlebihan. Tapi di dunia, seorang bernama Barack Hussein Obama yang keturunan Kenya akan lebih masuk ke “pergaulan” internasional sesungguhnya yang melibatkan panasnya Timur Tengah dan kemiskinan Afrika sebagai salah satu simpul besar permasalahan dunia.

3. Mari berharap bahwa naiknya Obama akan sedikit menaikkan humas negara kita. Meski hanya termaktub dalam satu bab (dari sembilanbelas bab) dalam buku Dreams of My Father, namun setidaknya Obama sudah beritikad baik bahwa Indonesia adalah salah satu fase penting yang membentuk dirinya sekarang. Ketika Obama nantinya berkunjung ke Indonesia, setidaknya headline bukan cuma seputar jamming telekomunikasi di radius dia berada. Namun cerita-cerita nostalgik riwayatnya hidup di Menteng, Jakarta bisa turut ter-ekspos. Apalagi Indonesia sekarang sudah relatif berbeda dibanding ilustrasinya di Dreams of My Father. Warga AS akan lebih familiar dengan Indonesia. Keuntungan? Coba bayangkan arus turisme dan rangkaian konser band asal negeri Paman Sam di sini (say goodbye to travel warning).

Setidaknya tiga poin di atas menjadi trigger kenapa saya antusias mengikuti hasil pemilu AS kali ini ketimbang edisi 2004 yang memunculkan John Kerry. Dulu juga seseru ini, apalagi lawan Kerry adalah Dubya himself yang saat itu (sampai sekarang sih) menjadi musuh dunia selepas agresinya ke Irak. Namun Kerry tidak bisa menjawab tiga poin saya di atas yang menarik minat saya untuk mengikuti perkembangan pesta demokrasi di AS.

However, tiga hal pula yang harus diantisipasi jika nantinya Obama terpilih. Satu, saya pesimis akan ada tindakan konkret untuk Israel. Dua, impak Obama di kancah internasional mungkin tidak akan terlalu signifikan terhadap dunia menyusul badai masalah domestik yang muncul belakangan. Dan terakhir, mari kita berharap bahwa Obama tidak akan di-lengserkan, baik melalui cara “keras” (assasinated) atau melalui skandal.

Selepas debat akhir kandidat presiden tadi pagi, kini kita menuju ke real deal. So, good luck Barry!

Entry Filed under: Current Affairs. Tags: , , , .



6 Comments Add your own

  • 1.    agestu  |  October 20th, 2008 at 6:59 pm

    sekitar bulan september lalu, gue liat salah satu TV swasta yang membahas Obama di segmen terahir berita sorenya. Judulnya? “Anak Menteng Maju ke Gedung Putih” (intinya seperti itu deh, kalo salah satu atau dua kata) dan gue pikir, Hah? Pede banget!! Beberapa bulan singgah di Indonesia terus di klaim anak Menteng? C’mon… kok gue berpikir sebenarnya tak akan terlalu berpengaruh tuh?
    tapi yah, lets hope…

  • 2.    Hilman  |  October 21st, 2008 at 8:34 am

    Dua tahun lho Ke…ya tetep variable-nya bisa “beberapa bulan” sih. Tapi senggaknya kan IN-DO-NE-SIA itu bukan barang asing lagi bagi rakyat US. At least mereka udah tahu kalo itu forms of nation, bukan lagu nama makanan India.

  • 3.    agestu  |  October 21st, 2008 at 1:16 pm

    lagu nama makanan india? hahaha dari mana lo dapet tuh?
    tapi btw, mnrt gw indonesia emang nggak asing lagi kok, ya tidak setenar iraq tentunya, meski punya konotasi yang mungkin kurang lebih sama buat mereka, haha..

  • 4.    Hilman  |  October 21st, 2008 at 1:20 pm

    Americans itu luar biasa lho stubborness mereka di bidang Geografi. Setau mereka dunia tu ya 51 states di sono, dan di luar itu cuman ada Eropa, Mexico, Kanada dan Cina.

  • 5.    agestu  |  October 21st, 2008 at 6:58 pm

    oiyaya, Jessica Simpson misalnya, bahkan nggak hafal 51 negara bagiannya sendiri :)

  • 6.    Hilman  |  October 25th, 2008 at 3:47 pm

    Yeah…that typically blond, eh?

Leave a comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Archives

Tags

Recent Comments

Links