Pemain Ke-13
July 15, 2007
rasanya melihat aksi para politisi kampung yang bersembunyi di balik
topeng PSSI. Mereka memang hanya bisa membuat malu orang-orang
sekampung yang bernama Indonesia ini. Tengok saja polah mutakhir mereka
yang menarik Dali Tahir dari Exco Piala Asia 2007 hanya karena kecewa
dengan wasit asal UAE yang memimpin partai Indonesia vs Saudi Arabia.
Petinggi PSSI melontarkan surat protes berisi 10 insiden "kesalahan"
wasit dalam partai tersebut, seraya mengancam menarik Dali Taher
apabila AFC berdiam diri.
Sebuah
analisis singkat bisa dikemukakan, mengingat fakta bahwa yang ada di
jajaran PSSI adalah para politisi. Politisi cenderung bergerak untuk
kepentingan mereka dan golongannya. Gampang ditebak bahwa sikap "sok
tegas" dari PSSI ini muncul karena Presiden Yudhoyono yang menyaksikan
pertandingan Sabtu lalu merasa kecewa dengan kepemimpinan wasit Ali
Hamad Al Badhawi yang dinilai subyektif. Well,
dasar mentalitas "Asal Bapak Senang", Nurdin Halid mungkin merasa butuh
cari muka dengan menyetor dekrit ke AFC yang disertai ancaman serius,
menurut saya, dengan menarik Dali Taher dari ExCo Asian Cup 2007. Tak
cukup dengan dekrit itu, Nurdin juga memobilisasi massa untuk mendemo
hotel Ritz Carlton di Kuningan, tempat menginap official AFC.
Tuduhan
saya terdengan ekstrim? Memobilisasi? Well, berapa persen suporter
teladan kita yang mengetahui persis tempat menginap petinggi AFC jika
tidak ada informasi insider? Plus, mereka yang ada di sana adalah
perwakilan dari Jakmania, Macz Man dan Aremania. Nama pertama dan
terakhir adalah jaminan suporter vokal yang memang sering berurusan
dengan Nurdin cs. Sementara Macz Man? Gampang untuk melihat keterkaitan
antara Makassar dan Nurdin. Pertanyaannya, kemana Pasoepati, Viola,
Bonek, Viking dan sebagainya yang juga tengah berada di ibukota jika
memang itu murni aksi suporter?
Sekarang,
jika kita lihat, "dosa" wasit Al Badhawi tidaklah terlalu berat.
Persoalan yang digulirkan Nurdin sampai harus mengancam AFC tidak pada
tempatnya. Kejadian sejarah di dunia sepakbola memberi gambaran
dosa-dosa berat wasit di antaranya:
- Menganulir gol yang sah tanpa dasar yang kuat,
ini terjadi di Piala Dunia 2002 menyangkut dua tim asal Eropa, Italia
dan Spanyol. Contoh yang lain sangat banyak, seperti gol Tottenham
Hotspurs ke gawang Man United yang telah melewati garis gawang. - Mengesahkan gol yang tidak sah. Kasus gol Geoff Hurst di Piala Dunia 1966 rasanya masih menjadi preseden terkuat. Is it cross the line or not?
- Memberi pinalti yang tidak jelas dan menguntungkan salah satu tim. Kasus diving Fabio Grosso mungkin bisa menjadi contoh di Piala Dunia 2006 lalu, yang menyingkirkan Australia.
- Tidak memberikan pinalti pada pelanggaran yang layak mendapat pinalti.
Kubu Celtic pantas berang di perdelapan final Liga Champions musim lalu
mereka berhak atas pinalti ketika Paolo Maldini handsball di kotak
pinalti Milan. - Memberi kartu merah tanpa landasan yang jelas sehingga membuat timpang salah satu tim. Well, kasus ini sangat jelas dan kerap terjadi.
- Alpa memberi kartu merah ketika pemain sudah mengoleksi dua kartu kuning.
Meski langka, tapi Graham Poll dari Inggris berprestasi cemerlang
dengan tiga kali mengkartu pemain Kroasia di Piala Dunia 2006 lalu. - Secara jelas memihak salah satu tim dengan perlakuan-perlakuan yang ekstra mencolok. Byron Moreno pernah memberi injury time selama 12 menit supaya tim yang "dibelanya" bisa menyamakan kedudukan.
- Menerima suap. Kasus Hoyzer di Jerman menjadi preseden. Tetapi kasus ini perlu dibuktikan.
Sejauh
yang saya amati, di laga Saudi melawan Indonesia, wasit Ali mungkin
tidak bertindak terlalu bijaksana dengan relatif mudahnya dia mencabut
kartu ke Budi Sudarsono dan Firman Utina hanya karena protes. Tetapi
selepas itu, rasanya kepemimpinannya tidak terlalu "gawat" sehingga
layak dilabeli "dosa besar" yang berujung kepada ancaman mengeluarkan
bung Taher dari ExCo Asian Cup 2007. Sensasi Nurdin adalah bentuk
penghambaan seorang politisi, dengan motivasi ABS serta turut mencicipi
gelar "pahlawan" yang lekat bersama mereka yang berjuang di lapangan
(serta 80.000 penonton di stadion yang besar hati memberikan applaus ke
tim Merah Putih - mohon keluarkan daftar politisi PSSI yang turut
menonton dari jumlah tersebut).
Dengan segala hormat, Bapak
Yudhoyono saya anggap sebagai pemimpin yang baik tetapi memang tidak
begitu paham dengan liku sepakbola. Buktinya, puluhan ribu suporter
lebih bisa melihat jika faktor wasit hanyalah faktor kecil dari
kekalahan Indonesia. Mereka ogah berbuat anarkis seperti yang biasa
mereka luapkan ke wasit-wasit liga lokal (yang memang penuh "dosa
besar"). Pak Yudhoyono mungkin juga hanya berujar kecewa saja untuk
meringankan mental pemain Garuda supaya mereka tetap percaya diri
melawan Korea, Rabu nanti. Tetapi dasar politisi sejati, lontaran
kekecewaan itu lantas disetir Nurdin sebagai kendaraan politis untuk
meraih simpati masyarakat. Tetapi maaf, tindakan pahlawan kesiangan
semacam itu justru hanya akan membuat malu bangsa kita. Nurdin mungkin
lupa bahwa dia adalah pemimpin organisasi olahraga yang mempunyai
slogan fair play dan sportivitas. Intinya adalah, fair play dalam
perjuangan, dan sportif dalam menerima hasilnya.
silahkan jika manuver politik itu terus dikoarkan. Tetapi dari awal
saya sudah berniat membasuh diri tujuh kali jika mengamini tindakan
para politisi busuk di PSSI. Najis mugholadhoh hukumnya…
Jika
suporter adalah pemain ke-12, maka federasi harusnya menjadi pemain
ke-13. Sayangnya, Indonesia terlalu menghayati peran nomor 13 sebagai
angka sial, sehingga segala tindakan federasinya selalu membuahkan
kesialan. Kasus Arema yang tercoret dari Liga Champions Asia beberapa
waktu lalu layak dijadikan evaluasi. Semoga kesialan tidak menular
kepada tim Garuda yang akan bertanding melawan Korea, Rabu 18 Juli ini.
Jika perlu, larang saja para politisi PSSI itu memasuki Senayan. Selain
najis, supaya kesialan yang mereka bawa tidak menghentikan langkah
Garuda.
Go Garuda, Go!
Entry Filed under: Sports. .
4 Comments Add your own
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
1. dias | July 20th, 2007 at 1:57 pm
100% setuju dengan kejijikan anda melihat aksi para politisi kampung yang bersembunyi di balik topeng PSSI,,terutama dengan si eks napi itu… terus terang ini sebuah analisis yg berani dan sangat sangat menarik…
tapi terus terang saya juga kecewa dengan pemilihan BADwawi u/ memimpin partai Indonesia >< Arab Saudi,,kenapa milih wasit yg juga dari jazirah Arab,,bener kata Gus Pur,,ini piala Asia atau liga Arab,,mana ketua AFCnya juga dari Arab…
2. Helman | July 22nd, 2007 at 11:52 pm
Ketua AFC dari Malaysia kok, udah dua kali berturut-turut gitu. Setelah Peter Velappan, sekarang Paul Mony.
Kalo menurut gw sih tetep wasit Ali masih mending lah, timbang wasit semalem, Uzbek vs Arab yang anulir gol Maksim Shatsikh. Tapi gw yakin kontroversi orang Uzbek ngga bakal seheboh Nurdin Halid drive isu soal wasit Ali…hehehe.
3. dias | July 30th, 2007 at 3:27 pm
ralat mas ternyata ketua afcnya dr qatar y…
skali lg BADwawi memimpin dng buruk mas,,korsel>
4. Helman | August 1st, 2007 at 9:41 pm
Tapi Badawai ngga masup wasit dan official yang dicekal tuh. Lagian di perspektif netral ngga ada yang mengecam Badawi selain Indonesia…hehe.