Living Surabaya: Traffic

June 14, 2007

Surabaya_congestion
Bulan
ini genap sudah saya dua tahun bermukim di kota para buaya (hahaha)
yang konon juga merupakan kota terpanas di Indonesia. Untuk sematan
gelar yang terakhir rasanya cukup membuat saya mengrenyitkan dahi,
berhubung fakta bahwa di Indonesia, terutama Kalimantan dan Sulawesi,
rasanya lebih banyak kota yang dilintasi langsung ekuator, sehingga di
bulan-bulan ini matahari cuman seinci dari puncak monas…like there’s monas in Borneo, yeah!
Atau kala musim kering mahapanas melanda Nusa Tenggara yang
mengakibatkan luasnya padang rumput gersang habitat para kuda yang
susunya digemari pria-pria perkasa tersebut. Tapi pertanyaan soal
panas-nya Surabaya hampir selalu menjadi topik basa-basi bagi semua
orang yang ingin menanyakan kabar settling saya ke ibukota Jawa Timur
ini.

Well, Surabaya sebetulnya jauh lebih
rindang daripada Jakarta lho! Di jejalur utama yang lebar jalannya
hampir mencapai 50 meter itu biasanya didominasi oleh peneduh di
pembatas jalur. Bukan sekedar basa-basi semacam penampakan bibit pohon
yang dibuat PemKot, tetapi betul-betul merupakan pohon yang besar dan
tinggi. Jika berkesempatan, coba browse sepanjang Jalan A.Yani, Jalan Kertajaya, Jalan Darmo dan sebagainya.

Surabaya juga tidak lebih gersang daripada Solo, kota yang sudah saya anggap sebagai hometown disamping
kota kelahiran. Sungai adalah jejalur sekunder yang dominan di
Surabaya. Kota ini dibentuk dari delta sungai yang membentuk formasi
kaki burung. So, bisa
dibayangkan liku sungai di pelosok kota. Ditambah fakta bahwa sungai di
Surabaya mungkin bersaing dengan pemandangan Danube di Hungaria, atau
Missouri di Grand Rapids, Amerika Serikat. Dimensi sungai sangat besar
dan airnya mengalir lancar, jauh dari kesan kali Ciliwung di Jakarta
atau kali Code di Jogja. Jadi, sekali lagi, gambaran kondisi fisik Suarabuaya (hehe) itu mungkin tidak seburuk yang dibayangkan. At least saya merasa demikian.

Tapi
satu hal "buruk" yang tepat dengan analisa saya adalah mengenai kultur
dan perilaku orang Surabaya. Sejak awal, banyak cerita mengenai tabiat
orang Surabaya, either itu orang Jawa Timuran, atau native Madura
yang memang banyak mendiami sudut kota pahlawan ini. Orang Surabaya
digambarkan bertempramen "panasan" atau mudah tersulut emosi, sekaligus
tidak sabaran. Oprah Winfrey pernah berkata, bahwa cara untuk menguji
kesabaran orang adalah ketika ada di dalam traffic circumstances (kira-kira terjemahan tepatnya apa ya…situasi lalu lintas-kah? - pen).
Dan dalam skala besar, ketika kita ingin mengetahui kultur perilaku
sekelompok orang di sebuah wilayah, lihatlah keadaan lalu lintasnya -
masih menurut presenter beken tersebut. Somehow,
petuah Oprah itu selalu teringat di kepala saya sepanjang saya
menyusuri jejalur lalu lintas di Surabaya selama dua tahun ini. Ciri
utama dari watak legendaris orang Surabaya yang "panasan" itu memang
tercermin dari perilaku lalu lintas mereka.

Dare to take challenge?

Cobalah, di tengah situasi traffic padat, katakanlah jam 9 pagi, kita tiba-tiba memberhentikan mobil ditengah jalan - Err…kalo itu terlalu iseng, mungkin ketika mobil Anda tiba-tiba mogok di jalan? Hmm…nauzubillah juga
sih ya - Begini saja, jika kita tidak kunjung bergegas begitu lampu
hijau menyala, bisa dipastikan tingkat desibel polusi suara di jalan
tersebut akan meningkat drastis! Sahutan bunyi klakson akan segera
menghujani kita. Jadi jangan sekali-sekali santai ketika tanda boleh
jalan menyala. Atau cegah situasi yang potensial membuat Anda mogok di
tengah-tengah kepadatan lalu lintas. Alih-alih membantu, hal seperti
itu justru akan memberi beban mental yang luar biasa besar.

Tetapi
bagi orang Surabaya, teror klakson semacam itu rasanya sudah menjadi
kultur. Ingin bermesraan berdua dengan berjalan lambat? Surabaya bukan
tempat Anda bung! Bisa-bisa puluhan kendaraan di belakang Anda akan
meneror dengan bunyi klakson mereka, untuk lantas melenggang santai
mendahului kita yang masih "shock". Ingin berpindah jalur? Sebaiknya
lakukan itu sejak 400 meter sebelumnya, sebab selain berpotensi
menambah polusi suara, Anda juga berpeluang untuk bersabar menghadapi
caci maki dari orang-orang. Mungkin itu sebabnya putar balik di kota
ini bisa sampai 5 kilometer panjangnya, atau bahkan tidak ada putar
balik!

Kadang bagi pendatang baru seperti saya dulunya, hal-hal
seperti sangat membuat kesal. Hanya untuk kemudian mengelus dada,
sambil membenarkan teori Oprah mengenai karakter penduduk setempat.
Rasanya, saya tidak bisa mengelak ketika ditanya tentang tempramen
"panasan" orang-orang Surabaya. Saya bukan humas anyway,
jadi sisi itu terus terang memang melelahkan di kala hari yang kita
lalui sudah cukup buruk. Saya terbiasa dibuai dengan habit pengendara
yang "lembut" di Solo dan Jogja (meski tetap saja ada bajingan yang
mencoba mengacau statement itu). Dan hidup bersama lalu lintas Surabaya adalah stressful.

Beruntung,
pohon-pohon peneduh di tengah jalan betul-betul memberi efek terapi
hijau bagi saya dan mungkin pengendara lainnya. Atau berjalan beriring
dengan alur sungai yang besar dan masif seperti di jalan Ngagel. Tidak
terbayang rasanya jika tekanan mental di lalulintas kota tersebut harus
dilalui dengan pemandangan gersang. Jika demikian, mungkin justru saya
yang akan turut berubah "panasan". Tapi alhamdulillah,
selama dua tahun berselang ini rasanya saya masih cukup sabar untuk
tidak turut serta menghadirkan teror mental bagi pengendara yang
mendapat musibah mogok di jalan. Atau tidak agresif mengambil sikap
ketika lampu hijau menyala seperti halnya balapan MotoGP.

Terlebih
lagi, panjangnya jarak putar balik justru membuat lalu lintas Surabaya
jarang terkena kemacetan parah. Untunglah, sebab saya tidak bisa
membayangkan tingkat kebisingan yang akan terjadi jika terjadi
kemacetan parah. Barangkali suara klakson dari Surabaya akan sampai ke
kota Anda?

After all, itulah bagian dinamika dari hidup di kota yang kini berusia 714 tahun.

*
Rencananya, saya ingin membuat rangkaian tulisan berseri mengenai kota
yang tengah saya perjuangkan untuk bisa menjadi hometown ini. So,
doakan dan dukung (melalui feedback) agar bisa konsisten ya!

Image source: itdp.org

Entry Filed under: Urban Living, Weblogs. .



6 Comments Add your own

  • 1.    jati  |  June 26th, 2007 at 6:30 am

    Suroboyo…oh Suroboyooo…

  • 2.    indira  |  March 16th, 2008 at 9:53 pm

    sebagai pengamat surabaya yang tampak experienced, saya (mungkin) calon warga sono, mo tanya dong…
    apakah anda.. punya info perumahan yang ramah balita, dan tk/preschool/daycare yang ok?
    maaf pertanyaan nya ibu2 sekali, berhubung saya ibu2,dan sepertinya anda juga punya filiasi dengan ibu2, semoga.
    Nuhun.

  • 3.    asri  |  May 26th, 2008 at 8:03 pm

    deskripsi anda itu boleh juga. boleh dong nulis juga tentang karakteristik anak-anak surabaya. apa ya berkorelasi dengan karakteristik orang tua mereka?

  • 4.    ajie  |  April 4th, 2009 at 1:32 am

    Sehebat-hebatnya Surabaya, ternyata kota ini masih tertinggal amat jauh ya, dibandingkan dengan Jakarta dalam segala hal. Memang sungguh ironis negeri ini, begitu jauhnya jarak kemajuan antara kota no 1 dengan no 2. Apalagi dibandingkan dengan kota-kota kecil lain seperti Pati dan Rembang. Ternyata sinyalemen yang beranggapan bahwa 80 % peredaran uang di Indonesia hanya terjadi di Jakarta benar-benar terbukti adanya.

  • 5.    Christian Yuliandi  |  April 29th, 2009 at 9:00 am

    Perumahan yang ramah balita, saya rasa adalah perumahan2 baru. Ada cukup banyak perumahan baru di sini, tapi lokasinya rata2 di pinggiran kota, terutama di Surabaya Barat, Selatan, Timur, atau di wilayah kabupaten Sidoarjo. Biasanya perumahan2 tsb. usianya dibawah 15 tahunan (bisa dilihat dari model penataan dan style rumah2nya), masih banyak tanah kosong dan traffic-nya relatif sepi. Karena rata2 didiami keluarga muda, di dalam atau sekitar perumahan2 tsb. biasanya juga banyak tk/preschool/daycare yg berkualitas baik.

    Karakteristik anak2 Surabaya, memang cukup berkorelasi dengan ortu mereka. Namun kenakalan mereka tidak separah Jakarta. Sedikit, atau mungkin nyaris tidak ada kasus2 spt narkoba, tawuran, dll. di kalangan anak2 Surabaya.

  • 6.    Budi  |  July 7th, 2009 at 4:01 pm

    Saya rasa tidak seperti itu bung, meski saya bukan tinggal di surabaya tapi tetangga nya (sidoarjo). Selama saya tinggal disana hingga SMA, kemudian pindah ke Bandung selama kuliah dan sekarang ke Bekasi, saya pikir lebih suka tinggal di surabaya. Kulturnya masih ada Jawa nya yang lembut, tapi jangan bikin gara-gara, itu aja sih.. :D.
    Tidak seperti Bandung dan Jakarta (inc Bekasi) yang kultur nya sudah kebaratan atau sudah westernisasi.
    Surabaya seperti antara kultur Solo dan Jakarta menurut saya. Budaya daerah masih kental, tapi bertahan hidup seperti orang Jakarta. So far, saya ingin tinggal di Surabaya daripada Jakarta.
    Nice post, keep writing bung..

Leave a comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Categories

Archives

Tags

Recent Comments

Links