The “Do-Bay” Project
May 6, 2007
Banyak yang memvonis jika arsitektur
modern yang membawa pembaruan ide di Eropa adalah ide yang terlalu
radikal untuk membawa ke tatanan dunia baru. Di benua mulanya, yaitu
Eropa, pendapat itu boleh dikatakan berlandasan, karena emfasis kuat
dari latar sejarah mereka yang tidak mungkin lekang oleh pembaruan.
Tetapi, arsitektur modern selalu bergerak menjamah dunia-dunia baru
yang miskin identitas, terjarah karena efek kolonialisme dan
imperialisme lampau, di belahan bumi selatan. Baik itu karya-karya
masif kota-kota "balita" model Chandigarh di India atau Brasilia di
Brazil, maupun serpihan-serpihan upaya modernisasi hampa di banyak kota
negara ketiga.

DUBAI
bisa dibilang sebagai negara ketiga jika ditinjau dalam tatanan
konstelasi politis. Negara di Teluk Persia tersebut selalu bersikap
netral, meskipun dalam urusan sensitif macam konflik Israel-Palestina
sekalipun. Dan sama halnya seperti negara-negara ketiga lainnya, bisa
dibilang Dubai memang bukan negara yang sama sekali "lepas" dari
belenggu penjajahan. Bukan semodel negara kita yang diperkosa Belanda
selama berabad-abad, tetapi lebih kepada adiksi Dubai terhadap
peradaban barat, dari sisi fisik dan non fisiknya. Meski letaknya hanya
sepelemparan batu dari pusat-pusat kebudayaan Islam masa lalu, mulai
dari Mekkah, Baghdad, Teheran, dan sebagainya, Dubai justru lebih
mendekatkan diri kepada dunia barat. Hal yang wajar jika Dubai memang
telah "melayani" negeri para bule itu dalam kurun waktu 20 tahun
terakhir.
Dubai, dan negara-negara di Uni Emirat Arab
diuntungkan dengan relasi mereka ke dunia barat setelah krisis energi
yang melanda di awal 90-an. Harga minyak yang melambung membuat bandul
ekonomi bergerak ke negara-negara teluk yang memang kaya akan sumber
daya alam Petra Oleum
tersebut. Aliansi Emirat adalah kongsi besar dari negara-negara kecil
di Teluk Persia yang turut mengeruk keuntungan dari perdagangan energi
terbesar bumi tersebut. Dubai adalah salah satunya. Dan posisinya
sebagai negara kaya baru membuat negara yang dipimpin dinasti Al Maktoum itu menjadi incaran para visioner-visioner baru dalam mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
Perkembangan
Dubai sangat masif. Dari awal 90-an yang berupa padang datar di tepi
Teluk Persia, menjadi metropolitan megah yang didominasi pencakar
langit raksasa di sepanjang bulevar-nya. Hanya dalam kurun waktu 10
tahun, arsitek-arsitek dunia datang ke Dubai sebagai lahan baru atas
kehausan negara tersebut atas identitas universal baru. Berbagai macam
proyek visioner akan mengisi relung ruang di penjuru Dubai dalam
tahun-tahun ke depan.
Burj Al Arab yang dirancang oleh arsitek Tom Wright dari WS Atkins
menjadi pembuka jalan bagi proyek ambisius yang akan berjalan di
tahun-tahun belakangan ini. Hotel tertinggi di dunia tersebut dibangun
di atas lahan pulau artifisial yang berbentuk seperti pohon palem. Palm Al Jumeira, demikian nama gugusan "berjari-jari" pulau artifisial tersebut, adalah awal dari megaproyek waterfront Dubai
yang akan membuka lagi dengan dua "palem" tambahan. Lebih besar dan
lebih masif, "palem-palem" baru itu akan menendang reklamasi pantai
Singapura menjadi sebuah proyek remeh-temeh. Palm Jebel Ali dan Palm Deira
akan mengapit Palm Jumeira menjadi tiga serangkai pulau artifisial yang
siap dijual pada jutawan-jutawan ekspatriat yang mengingingkan visi
hidup dunia baru di Dubai.
Sementara di downtown yang
baru berkembang dekade terakhir ini, sebuah bangunan multi-ambisisus
pemenang sayembara rancangan biro arsitek asal Amerika Serikat, SOM, siap mengguncang dunia. Burj Dubai,
megastruktur berketinggian sekitar satu kilometer siap menjadi
perwujudan dari visi Frank Lloyd Wright -kompatriot atau bahkan
inspirasi SOM- tentang menara satu mil-nya. Burj Dubai siap
mengangkangi menara-menara lainnya, seperti Petronas dan Shanghai
Tower, dua-duanya dari negara yang tengah mengembangkan sayapnya:
Malaysia dan China. Perlombaan ketinggian ini memang tidak lagi menarik
minat dunia barat, terutama Amerika sebagai "penemu" bagunan ramping
tinggi ini, terutama setelah ikon ketinggian AS rancangan Minoru
Yamasaki dihantam Boeing dalam tragedi 11 September 2001. Dan kini,
arsitek-arsitek visioner mengalihkan perhatian ke negara yang tengah
mengemis identitas dari perlombaan struktur macam Dubai, Malaysia atau
China.
Burj
Dubai akan terletak di jantung kota Dubai yang dibelah oleh bulevar
Sheikh Zayid yang dipagari oleh macam-macam bagunan tinggi. Downtown Dubai juga tidak luput dari rekayasa para visioner "keturunan" para utopis model Ebenezer Howard di era Garden City akhir abad 19. Superblok Media City dan Internet City
menjadi bagian dari jantung kota yang penduduk asingnya jauh lebih
banyak dari pribumi (orang Arab). Kedua superblok itu dibangun untuk
menjawab "tantangan" kota-kota berinfrastruktur IT canggih seperti Cyberjaya
di Malaysia dalam skala yang lebih ekstrim karena faktor modal yang
tentunya juga berlebih dibanding jiran kita tersebut. Rancangan dari
pengembangan blok kota itupun mirip dengan visi Le Courbusier atau
Howard, dengan dominasi kantor media macam Bloomberg, Reuters,
Microsoft dan sebagainya mengisi pusat kota, sementara penduduknya
"diungsikan" ke luar jalur, yaitu di "palem-palem" artifisial di tepian
pantai Dubai yang tengah dibangun kawasan huni masif, terutama di Palm
Deira yang notabene merupakan pulau artifisial terbesar di antara
ketiganya.
Jika
seluruh pekerjaan mempermak negara-kota di Teluk Persia tersebut
selesai, maka dari kuburannya di Louvre, Paris, Edouard Jeanneret akan
tersenyum lebar. Pria yang dikenal dengan nama Le Corbusier tersebut
akan mentertawakan para skeptis post-modernis yang mencap gagal
proyeknya di Chandigarh, India, yang memang sampai sekarang tidak
kunjung beranjak dari kota medioker. Atau juga episode masa Plan Voisin Corbu disentil oleh politis Paris karena hendak mengubah jejalur raksasa Haussmann di kota tersebut menjadi pengejawantahan Garden City
dari Ebenezer Howard. Yang jelas, Dubai masih memerlukan waktu untuk
kembali mengangkat nama Le Corbusier sebagai salah satu bapak visioner
perancangan kota, setara dengan imejnya yang melekat sebagai perancang
bangunan indah di penjuru dunia. Dubai adalah manifestasi tertunda dari
arsitektur modern yang turut digagas oleh Corbu, dan sekarang tengah
mengepakkan sayapnya untuk menjadi kota dengan uniformitas global
pertama di bumi. Sesuai dengan cita-cita Vers Une Architecture.
Kini
tinggal "mengipasi" negara lain yang mungkin akan iri dengan proyek
Dubai, maka arsitektur modern bisa resmi diklaim ulang kebangkitannya.
Mungkin Indonesia barangkali, yang turut mencicip kepakan sayap Dubai
-melalui biro arsitek WS Atkins yang merancang Burj Al Arab- pada
proyek Regatta di waterfront Jakarta? Siapa tahu, nantinya ada the next Roger Federer vs Andre Agassi* di langit Batavia yang menghadap ke Laut Jawa…
Namanya juga visioner, utopis, alias mimpi.
*| Keduanya bertanding di atap Burj Al Arab dalam sebuah eksebisi pertandingan tenis.
Gambar dari atas ke bawah:
1. Palm Jumeira, proyek reklamasi ambisius Dubai. (courtesy Wikipedia)
2. Burj Al Arab, ikon Dubai untuk menyaingi bangunan macam Sydney Opera
House sebagai lambang dari pulau artifisial, Palm Jumeira. (courtesy Wikipedia)
3. Burj Dubai, proposal megastruktur setinggi kurang lebih satu kilometer rancangan SOM. Diproyeksikan selesai pada 2009. (courtesy Wikipedia)
4. Downtown Dubai di sepanjang bulevar Sheihk Zayid yang banyak berkembang secara impresif sejak 90-an. (courtesy National Geographic)
5. Proyek pembangunan di Palm Jumeira, hunian-hunian baru yang
melibatkan banyak pekerja kontruksi asal Indonesia dan India. (courtesy
National Geographic)
Entry Filed under: Arts and Designs. .
3 Comments Add your own
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
1. syaiful | May 9th, 2007 at 6:57 pm
Negeri yg sedang mencari jati diri dengan uang yang berlimpah memang jadi surga bwt para asristek ya..?,ide2 liar dan inovatif jadi serasa mendapatkan penyaluran yg tepat, di sisi lain penghargaan dari segi finansial juga pasti setimpal..wuihh what a life..:D
btw, tau nggak ko Monas juga mo dipugar ?,dibikin setinggi ampir 1 kilo meter juga. saat ini pemerintah sedang mencoba membujuk Mak Erot dan cucu-cucunya bwt jadi tulang punggung dalam proyek ini..huahahahaha…
2. Helman | May 9th, 2007 at 7:43 pm
Wah kudu “dikipasi” sama hal-hal yang erotis yak biar tetep menjulang satu kilometer. Hahahaha…
Btw, kenapa yang nama mak “Erot” itu dari sononya ada semacam koneksi sama “Erotis”. Mungkin dari asal kata yang sama - eros. Hehehehe.
3. syaiful | May 9th, 2007 at 9:48 pm
tp kayaknya bakal gagal deh…soalx di sekitar monas kan ada Masjid sama Gereja segala..jadi pikiran2 erotis langsung jadi tawar…hehehe
tp sayangnya tampang Mak Erot sendiri sama sekali gak erotis yak..?,huahahahaha..