Warna Warni Calcio
March 8, 2007
Ulah"Boys San", tifosi beraliran kanan dari Internazionale, ketika
menyambut "saudara" mereka, "Excalibur", tifosi Lazio yang beraliran
politik serupa dengan asap berwarna biru langit khas Lazio.
DI
Brazil, sepakbola adalah jalan hidup. Jutaan orang menggantungkan
kehidupannya pada mengolah si kulit bundar untuk membantu keluar dari
jeratan kemiskinan yang parah. Di Inggris, sepakbola adalah ritual dan
hiburan. Jutaan orang merasakan obligasi untuk terlibat dalam
sepakbola, setidaknya di akhir pekan, sebagai bentuk tradisi yang
sangat mereka hormati. Juga termasuk melanggengkan histori memusuhi
semua musuh bebuyutan mereka meski perbedaan kastanya kadang jauh. Di
Jerman dan Perancis, sepakbola lebih ke kebanggaan teritorial dan juga
pesta. Sementara di Spanyol dan Italia, sepakbola adalah politik!
Spanyol
menyisakan banyak klub sebagai moncong perjuangan politik. Ketika rejim
Franco berkuasa, Real Madrid adalah bidikan pemimpin fasis tersebut
sebagai imej Spanyol. Sevilla adalah bentuk perwakilan rakyat
Andalusia, dimana Franco juga menanamkan klub "cabang"-nya yang
bergelar Real di sana dalam wujud klub Real Betis Balompie. Demikian
juga ketika orang Katalunya bangga dengan Barcelona, bibit "devide et
impera" dibiarkan tumbuh bersama klub Espanyol yang menjadi rival
Barca. Di daerah Basque, untuk meredam klub suara ETA, Athletic Bilbao,
pemerintah menghidupkan klub kedua Real Sociedad sebagai kekuatan
oposisi. Tetapi segalanya memusat kepada klub nomer satu mereka, Real
Madrid yang dihuni banyak basis politik fasis (ultra kanan) sampai
sekarang.
Sementara, di Italia kekuatannya lebih merata. Thanks to rezim Mussolini yang tidak bertahan lama. Il Duce
(sapaan Mussolini) hanya meninggalkan jejak-jejak fasis ke beberapa
klub saja, tanpa sempat membuka "cabang-cabang" seperti halnya Franco.
Tetapi, secara naluriah, orang Italia sejak lama "hobi" dengan
persekutuan politik (sejak mitos Romus dan Remulus yang saling bunuh
untuk merebut Roma). Jadi, tifosi
(supporters) dan bahkan pemain juga secara sadar membawa atribut
kesadaran politik ke lapangan sepakbola. Ketika dua klub bertemu di
stadion, apa yang mereka bentrokkan adalah kekuatan ideologi yang
membungkus permainan sepakbola itu sendiri.
Roma dan Lazio misalnya, derby sohor dari ibukota Italia, bukan hanya mempertemukan rivalitas masyarakat urban (basis mayoritas pendukung Roma) dan daerah suburban (basis Lazio) - seperti halnya persaingan Persita dan Persikota di Tangerang. Pemicu rivalitas abadi adalah dua basis tifosi ultras (fanatik) mereka yang secara politis berseberangan. Irriducibili
adalah fanatik Lazio kader-kader fasis yang juga rasis, binaan
Mussolini, yang sering membuat ulah. Kekuatan mereka disaingi dengan
kelompok fanatik Roma, Fedayn, yang beraliran ekstrim kiri, yang notabene merupakan kekuatan oposan terbesar dari Irriducibili.
Kelompok-kelompok suporter ultra-keras itu juga membuat cabang-cabang di klub lain. Jika kita mengenal identitas "Irriducibilli",
artinya isinya adalah orang-orang fasis beraliran ekstrim kanan.
Tercatat Lazio dan Inter adalah dua klub terkemuka yang didukung
jaringan Irriducibilli. Sementara Viking juga berisikan golongan serupa dengan Irriducibilli, yang juga menjadi basis kekuatan klub macam Inter, Juventus, dan Lazio.
Publik mungkin masih ingat dengan provokasi kapten Lazio (waktu itu) ke hadapan ribuan tifosi Livorno dengan salam Il Duce-nya. Hal itu menjadi masalah besar karena yang dihadapi oleh Di Canio adalah tribun Brigate Autonome yang selairan dengan Fedayn. Di Canio dibesarkan sebagai seorang irriducibile
Lazio yang memiliki darah fasis kental. Darah fasis biasanya rasis.
Oleh karena itu, seorang Sinisa Mihajlovic yang menghamba ke pemimpin
fasis Serbia, sempat menjadi ikon bagi suporter ultras Lazio karena
perilaku rasisnya. Tifosi Lazio sangat terkenal rasis, sampai direktur
klub menginstal beberapa pemain berkulit hitam dalam diri Fabio
Liverani pada masa lalu. Sekarang, kehadiran Gaby Mudingayi dan Ayodele
Makinwa menjadi penenang untuk Irriducibilli.
Perkara
rasis juga menjadi problem Internazionale. Marc Zoro adalah korban dari
keganasan perilaku rasis kelompok ultra kanan mereka, Viking (dan penjelmaan versi kecil-nya, Irriducibili). Kelompok tersebut juga golongan tifosi
yang bersuara vokal terhadap presiden klub, Massimo Moratti. Alih-alih
demi kepentingan klub, Moratti tidak disukai karena kedekatannya dengan
politisi kiri dari Roma seperti Romano Prodi. Ironisnya, tokoh
beraliran kanan dari kota Milan justru dimiliki rival sekotanya, AC
Milan yang memiliki politisi Silvio Berlusconi. Dan tambah ironi ketika
basis suporter Milan sebetulnya banyak yang beraliran ekstrim kiri
dalam diri Fossa Dei Leoni (kini telah membubarkan diri). FDL dan Viking
selalu terlibat kerusuhan, seperti yang terlihat jutaan pemirsa ketika
Viking melontarkan petasan ke kiper Milan, Dida, di perempat final Liga
Champions beberapa tahun lalu. Bahkan FDL kini telah bubar gara-gara
mereka didakwa bersalah dalam keributan dengan Viking tahun lalu
selepas derby. Viking juga dibekukan dengan banyak pentolannya dipenjara.
Dan tahun ini, jelang derby kedua musim 2006/2007 dimana Inter menjadi tuan rumah, barisan ultras kanan lain, Boys San siap menjamu "saudara" mereka, Brigata Rossoneri yang juga beraliran serupa. Sama halnya dengan derby pertama ketika BR menjamu Boys San.
Partai berakhir tanpa kerusuhan. Tetapi, tanpa berharap terjadinya
kerusuhan, bumbu-bumbu politik pada masa lalu yang menghiasi derby
Milan adalah penyedap atmosfer sepakbola. Mereka sering membuat ragam
atraksi menarik yang berisi provokasi atau lecutan semangat buat
pemain. Seperti diakui Massimo Oddo, bahwa derby terbaik di Italia saat ini hanyalah derby della capitale (derby ibukota) yang atmosfernya konon mengalahkan final Piala Dunia. Itu terjadi karena Fedayn dan Irriducibili masih mendominasi wajah-wajah penonton yang hadir di Olimpico.
(ultras Milan) terhadap tifosi Inter (Interista) yang digambarkan
sebagai orang yang hanya bisa memandangi kesuksesan tetangga mereka
(Milan) lewat jendela dan berangan-angan yang tidak pernah terwujud.
Dan memang, itulah dinamika wajah calcio
yang punya sejarah panjang dan kebanggaan tinggi terhadap identitas
klub mereka. Klub adalah representasi wawasan politik bagi tifosi, dan
juga pemain. Dan itulah yang mereka bawa ke lapangan dengan filosofi:
"…apapun, asal tidak kalah!".
Entry Filed under: Sports. .
3 Comments Add your own
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


1. syaiful | March 13th, 2007 at 12:14 am
sepakbola adalah politik bukan cuma di Spanyol n Italia aja lho Man,di Makassar juga..klo mau jadi Walikota musti (pura-pura) sibuk ngurusin PSM, peluang kepilih jadi lebih besar..:)
2. Helman | March 13th, 2007 at 9:17 pm
Okei bos…laen kali gw tulis fenomena sepakbola politik di Indonesia deh…hehehe.
3. bintang | September 10th, 2009 at 9:17 am
bagaimana dengan balkan’s scene? ultra2 di balkan sangat politis..